Manajemen Resiko Operasional Gedung

Prioritas Pemilahan Masalah Guna Minimalisasi Hasil Kerja

Manajemen Resiko adalah proses pengukuran atau penilaian resiko serta pengembangan strategi pengelolaannya. Stategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi resiko tertentu. Manajemen Resiko Tradisional terfokus pada resiko-resiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal ( seperti bencana alam atau kebakaran, kematian serta tuntutan hukum ).

Project Risk Management ( PRM ) adalah satu dari sembilan bagian ilmu pengetahuan ( Body of Knowledge ) yang dicantumkan di Project Management Body Of Knowledge ( PMBOK ). Teori, konsep dan aplikasi dari PRM telah berevolusi sesuai dengan jamannya. Perubahan pemikiran terlihat dari pola penerapan hard-paradigma ( Project dilihat sebagai Mesin ) ke arah soft – paradigma ( Project sebagai Organisme hidup ).

Suatu resiko tidak dapat dihilangkan, ada kemungkinan-kemungkinan yang dapat diterjemahkan guna minimalisasi hasil negatip ( tidak akan bisa mengeliminasi 100% resiko ) yang akan diperoleh ( Awal ke Proses – Kontrol – Hasil ). Dalam suatu bangunan, jika kita menerapkan manajemen resiko banyak konsep prioritas yang dapat ditemukan agar diperoleh operasional peralatan optimal.

Risk Avoidance ( Alternatif Resiko ), Risk Mitigation ( Pengalihan Resiko ), Risk Transference ( Pemindahan Resiko ) dan Risk Acceptance ( Penerimaan Resiko ) merupakan hasil akhir untuk diperoleh kalkulasi dalam penggunaan tiap peralatan terpasang di dalam gedung. Sekarang kita analogikan suatu PRM ( Project Risk Management ) dalam aktifitas Maintenance ( Service AHU ). Bayangkan jika tiba-tiba peralatan distribusi udara suatu lantai mengalami kegagalan fungsi ( AHU ) dimana konsumen utama dari peralatan ini adalah seorang pengguna yang segala sesuatunya harus riil dan logis.

Pemeriksaan, pengukuran, lihat jadwal service terakhir dan lain pelaksanaan teknis problem solving telah dilakukan, pada akhirnya tinggal titik terakhir yang belum terobservasi, yakni ruangan pengguna / konsumen tersebut sendiri, dan kelihatan sedang tidak bisa diganggu karena kesibukan di luar dari biasanya, adapun lokasi peralatan yang akan diperiksa tepat berada di atas meja kerja. Berhubung ini masalah yang harus ditangani, kita menyadari jumlah resiko yang harus diterima. Perencanaan, pelaksanaan, koordinasi dan komunikasi telah dilaksanakan dalam penyelesaian sebelumnya, tak terpikirkan jika mengalami hitungan Resiko yang tak teridentifikasi secara menyeluruh, dan tak terbayangkan sebelumnya. Pelaksanaan PRM yang mendasar adalah sebagai berikut :

Fakta : ada pengguna bersangkutan di lingkungan obyek….

A. Kalkulasi
1. Berapa kemungkinan diijinkan untuk bekerja ? [ 0%, 25%, 50%, 100%?]
2. Apa yang diperoleh jika permasalahan tidak selesai ? [ marah, gerutu, di PHK ]
3. Berapa waktu penyelesaian ( target ) ?

Solusi penyelesaian berdasar PRM adalah dengan :
a. Menunda, tunggu waktu yang tepat – ( Risk Avoidance ), alternative ini dipilih jika resiko terlalu tinggi. Jika resiko yang diterima akan mengalami kegagalan total pada saat pelaksanaan.

b. Meminta ijin, acuh, ada yang bertanggung jawab, hanya pelaksana ( Risk Mitigation ). Tidak menghindari resiko tapi mengurangi resiko, dengan perbandingan seimbang antara Kemungkinan dan Konsekuensi.

c. Meminta pemberi tugas untuk menemui pengguna bersangkutan, jadi tanggung jawab sudah dialihkan ( Risk Transference ), dalam manajemen proyek hal seperti ini sudah biasa, salah satu metode adalah membeli asuransi, karena dengan premi yang sudah dibayarkan proyek akan terjamin untuk resiko tertentu.

d. Lanjutkan Pekerjaan ( Risk Acceptance ), alternative ini diambil jika resiko dianggap sangat kecil sehingga pantas untuk diabaikan.

Perbedaan mendasar pelaksanaan dari PRM klasik yakni, banyak penggunaan dari terlalu fokusnya penggunaan analisa kepada hal negatip sehingga kesempatan pemakaian analisa positive Risk sering terbuang percuma karena tidak dikelola. Penilaian suatu resiko akan lebih baik jika asumsi yang digunakan berdasarkan ; pengetahuan, waktu pelaksanaan, waktu perbaikan dan SDM dari pelaksana penuh, mulai dari proses awal hingga hasil akhir. Dengan strategi dan perbaikan metodologi kerja akan diperoleh suatu pendekatan sistematik yang digunakan untuk mengidentifikasikan, memprioritaskan dan memperbaiki resiko dari kerusakan peralatan ME terpasang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s