Supply Chain Part untuk Gedung

Kelangsungan suatu operasional dari aktifitas organisasi tidak hanya tergantung dari ketersediaan SDM ( Sumber Daya Manusia), peralatan yang memadai, komunikasi yang terstruktur, tapi juga adanya pasokan yang teratur dari material / part terpasang dari unit yang ada. Konstruksi system pendistribusian / pasokan yang jelas akan mampu membuat perusahaan dapat mengintegrasikan kualitas dari hasil pekerjaan yang ada, terutama sekali dalam pelaksanaan pekerjaan di bidang jasa ( Operasional gedung ).
Hasil kerja (kualitas) berbanding pelayanan tepat waktu pada konsumen (tenant) sangat mempengaruhi kemampuanhandalan persaingan antar perusahaan jasa pada saat ini. Implementasi yang nyata adalah dengan adanya isu “Pemanasan Global” yang telah menjadi trendsetter. Akibatnya timbul suatu konsep dasar gedung property yang dikenal dengan “GREEN BUILDING” atau bangunan ramah lingkungan.

Bangunan Ramah Lingkungan Syaratkan Efisiensi
Konsep “Green Building” atau bangunan ramah lingkungan didorong menjadi trend dunia bagi pengembangan property saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro. Poin terbesar dalam konsep ini adalah penghematan air dan energi terpakai serta penggunaan energi alternatif. Di Indonesia akses untuk energi alternative masih kurang (lemah). Suplai energi listrik untuk property hanya mengandalkan PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang belum menggunakan energi alternatif. Di Amerika Serikat, berbagai perusahaan menyuplai energi listrik dengan berbagai pilihan bahan baker, termasuk bahan baker alternatif. Pengembang yang memilih energi listrik dari sumber alternatif akan memperoleh poin terbesar dalam konsep “Green Building”.
Di berbagai Negara, penerapan dari konsep ini terbukti menambah nilai jual. Namun, di Indonesia masih butuh proses edukasi panjang. Tidak fleksibel untuk bisnis, mahal dan sulit masih ada kerancuan dalam mengembangkan konsep ini. Nilai tanggung jawab para pengelola gedung adalah pioneer untuk aplikasi atau penerapan dari konsep ini, karena dari pengelolaan ini, yang mendasari penggunaan energi cukup besar dengan mengurangi pemanasan global dengan cara menghemat energi ( listrik, air, bahan cepat habis dan sebagainya ).
Pengembangan dari konsep “Green Building” adalah Leadership in Strategy and Environmental Design ( LEED). Faktor global dari konsep LEED adalah efisiensi penggunaan air, penggunaan energi secara minimum atau upaya perlindungan lapisan ozon.
LEED saat ini sudah diadopsi oleh India, Cina, Dubai dan Vietnam, pada dasarnya awal perencanaan dilaksanakannya konsep LEED lebih ditekankan pada bidang arsitektur gedung, sehingga pendidikan berperan penting dalam pemahaman tentang SUSTAINABILITY (Kepentingan produk). Isu utama menyangkut bangunan ramah lingkungan, diantaranya membangun hanya yang diperlukan, menganut prinsip keterkaitan, serta memandang profesi arsitek sebagai “Pengurus Bumi” (Steward of The Earth).
Ada Strategi Design yang diterapkan, diantaranya, pemanfaatan material berkelanjutan, keterkaitan dengan ekologi lokal, keterkaitan antara transit dan tempat tinggal, rekreasi dan bekerja, serta efisiensi penggunaan air, penanganan dan mengedepankan kondisi lokal, baik secara fisik maupun sosial. Untuk mendukung konsep diatas dibutuhkan suatu manajemen rantai supply dari part atau material yang terpasang, tidak terkecuali dalam penentuan jenis material atau bahan, waktu dan proses pengadaan suatu part dan material dengan efektif dan efisiensi. Dengan system yang terarah dan berkelanjutan akan menghasilkan kontribusi nyata untuk pelaksanaan konsep dari “Green Building”. Globalisasi dalam tekanan persaingan, pengendalian mutu (kualitas) serta pentingnya peningkatan layanan pelanggan adalah berita dan isu penting yang menjadi fokus perhatian perusahaan, terutama perusahaan jasa yang melakukan jenis pekerjaan dalam operasional suatu gedung (Preventive dan Breakdown) akan menambah tidak lengkapnya upaya konsep “Green Building” ditinjau dari aspek bidang ME. Bagaimanapun seluruh komponen yang berperan dalam aspek pengadaan (Supply) part dan material atau supply chain harus mengarah kepada optimalisasi rantai nilai (Volume Chain).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s