Kualitas Kerja Pelaksana Dasar Teknik ( Teknisi ) Di Operasional Gedung

STRATEGI SISTEM PELAYANAN DENGAN TQM ( PTM )
Di dalam suatu system pengelolaan Gedung/Bangunan teruntuk di bidang ME ( Mekanikal Elektrikal ) keterkaitan utama antara bagian yang satu dengan lainnya memiliki nilai saling ketergantungan.
Perumpamaan, Toyota dengan JIT ( Just In Time ) nya, melaksanakan proses keteraturan dalam perubahan material dari bahan mentah hingga menjadi hasil ( Product ), melalui sistem Roda Berjalan / Conveyornya. Jika ada kegagalan dalam proses sebelumnya berdampak terhenti proses selanjutnya, hal ini mengakibatkan biaya terbuang dan efisien dari sistem tak tercapai, di sisi lain diperoleh kualitas yang tak ternilai, berdasarkan proses control ( pengendalian ) dari kegagalan atau terhentinya proses yang ada.

Anomalinya, Seorang Teknisi gedung dapat melihat suatu peralatan bukan hanya berdasarkan spesifikasi serta fungsi dari peruntukan peralatan itu saja, tetapi harus dapat memilahkan satu kesatuan perspektif terpusat dalam memandang bagian komponen yang tidak dapat berdiri sendiri dalam satu unit peralatan, hal ini hanya dapat dilakukan dengan pemikiran sistematis yang berkualitas dari tiap individu ditambah dalam memperoleh pembelajaran berkelanjutan.

Di era serba Global saat ini, persaingan di segala bidang bukan hanya persaingan berdasarkan kata “ketat” dengan bobot biasa, tetapi sudah bersifat Hiperkompetisi, ciri utamanya adalah Dinamika yang terjadi di pasar, semakin sering, semakin berani dan semakin agresif, semuanya mengandalkan pada kecepatan, inovasi, kualitas manusia, pengendalian gerak dan kualitas pelayanan.
Kemajuan teknologi, menuntut pekerjaan seorang teknisi untuk melakukan Efisiensi & Efektifitas terukur dengan Standardisasi maksimal, guna memuaskan konsumen tanpa mengurangi nilai pelayanan. Disadari bahwa dalam memasuki era globalisasi atau pasar bebas, kelemahan Indonesia adalah keberagaman dalam kualitas Sumber Daya Manusia ( SDM ).

Optimalisasi dari seorang teknisi gedung harus mulai dari peningkatan Pemahaman System ( Knowledge Of System ), Nilai memiliki ( Sense Of Belonging ) dan Tanggung Jawab ( Sense Of Responsibility ) dalam pelaksanaan kerja, sehingga peningkatan integritas SDM tak diragukan, diikuti dengan usaha peningkatan Motivasi, Produktivitas dan Unjuk kerja ( Performance ). Peranan dari Manajemen Kualitas atau TQM ( Total Quality Management ) dalam pelaksanaannya harus juga menyertakan TQC ( Total Quality Control ) atau PMT ( Pengendalian Mutu Terpadu, dipadukan dengan nilai Gotong Royong ( Team Work ), Kekeluargaan ( Network ) dan Musyawarah Mufakat ( Communication ) harus dijadikan satu kesatuan mendasar yang telah ada di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

Peralatan Mekanikal Elektrikal dalam suatu gedung/bangunan memiliki sistem yang sudah dirancang, dibuat dan ditempatkan sesuai keinginan bersama, antara pemilik dengan Perencana, pada saat berbeda antara Perencana dangan Pemasang ( Kontraktor ). Pada akhirnya, dalam tahap pengoperasian suatu Peralatan dalam gedung / bangunan tidak terlepas keterkaitan dari sistem yang sudah disepakati sebelumnya, jika dalam pelaksanaan penyelesaian masalah seorang teknisi gedung, tidak menelaah dasar awal ( Brainstorming ) peruntukan dan fungsi diharapkan secara garis besar tidak dapat diperoleh secara optimal kualitas keseluruhan penyelesaian, Sehingga akan diperoleh nilai Subyektifitas dalam penilaian pelayanan dari konsumen.

Dengan implementasi PMT, tiap teknisi memiliki inovasi dan kreatifitas baik dalam bertindak dan berpikir, sehingga keselarasan penyelesaian suatu masalah tidak liar dan dapat dibuat urutan yang berjenjang jika dibutuhkan pada saat akan datang. Terlaksananya nilai-nilai di atas, merupakan partisipasi yang mengkristal sehingga akan diperoleh seorang teknisi gedung yang berkualitas baik dengan kesempatan berpastisipasi, berinovasi, berkreatifitas dalam membantu pengelolaan suatu gedung dilihat dari kualitas, efisiensi dan efektifitas yang diharapkan.

Dengan Mutu terkendali yang diperoleh, secara khusus perusahaan / organisasi telah siap secara berjenjang dalam menghadapi persaingan. Tak terkecuali, dengan ini diharapkan suatu proses yang akan menghasilkan Standing Operation Procedure ( SOP ) baru yang lebih baik dari yang ada sebelumnya, dalam upaya menghasilkan Teknisi yang Kompeten dan Terarah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s