Pengendalian Resiko Peralatan MEP Gedung

Semua barang ( peralatan ) akan rusak, tidak ada yang kekal. Jenis kerusakan dan laju ( waktu ) kerusakan juga tidak sama, tetapi tidak serentak bersamaan melainkan melalui proses, gejala atau tanda awal. Misalnya, perubahan suara, getaran, rupa, warna, bau, tekanan, temperatur & lain sebagainya. Oleh karena itu tiap kegiatan yang dilakukan memiliki dampak / efek, dari tindakan yang dihasilkan.

Seorang teknisi dalam melihat suatu permasalahan atau aktifitasnya yang rutin telah mengetahui secara pasti apa yang harus dilakukan, tak terkecuali sama dengan yang non pengalaman. Mengidentifikasi secara pasti atau jelas sub bidangnya akan membawa hasil yang maksimal walaupun dalam pelaksanaannya kerap terbentur berbagai kendala yang tidak diduga ( urcentainly ) atau sudah siap untuk diterima juga siap dialihkan. Hal ini terkait erat dengan suatu proses yang dinamai “Resiko”.

Resiko tidak akan bisa menghasilkan 100% resiko, ada yang sengaja diterima (accept), ada yang di nitigasi, menyisakan residu resiko & ada pula resiko yang tidak bisa diidentifikasi di awal ( unknown – unknown ). Jika resiko diabaikan oleh seorang teknisi akan berdampak pada penurunan kualitas peralatan, baik dari sisi usia pakai atau fungsi utama dari suatu peralatan sehingga dampak lanjutan akan membawa perubahan stigma dasar pemikiran terhadap proses awal desain / perancangan yang telah dilaksanakan.

Pemetaan yang diperoleh dari data inspeksi, operasional atau perawatan berawal dari proses indentifikasi / pencatatan tertulis pada lembar kerja yang ditentukan (di rancang) oleh organisasi, sehingga tingkat kegagalan proses operasional peralatan telah diketahui sedari awal. Dasarnya, jika identifikasi tidak segera dikelola ( dievaluasi & ditindak lanjuti ) akan berdampak semakin buruk terhadap kualitas terpasang pada peralatan yang ada. Pengendalian utama untuk mengeliminasi resiko berasal dari sumber :

a. Manusia, proses & teknologi terpakai
b. Internal & Eksternal Organisasi (perusahaan)
c. Bencana, ketidakpastian dan kesempatan.

Banyak hal dari ketiga unsur diatas telah menjembatani perubahan dalam Pengendalian Resiko di bidang Perawatan Peralatan ME, karena telah semakin maju pengetahuan dari segi engineering & manajemen dengan sains dan teknologi.

Dengan perawatan yang teratur maka “Resiko” peralatan rusak sangat rendah, tetapi tiap produk hendaknya selalu disertai petunjuk operasi dan perawatan yang harus diikuti dengan baik dan tepat. Lain halnya jika peralatan harus menjalani perbaikan tetapi terjadi kendala dalam pengadaan part yang dibutuhkan. Semua hal diatas dapat ditanggulangi dengan melihat sesuatu dari sisi objektif ( manajemen Panik ) yang harus dijalankan.

Perawatan pencegahan, perawatan prediktif, perawatan korektif, perawatan detektif serta konsep perawatan yang berkembang dari kemajuan tersebut, seperti Relability Centered Maintenance ( RCM ), Total Productive Maintenance ( TPM ), An Conditional Maintenance dan banyak lagi istilah baru, menunjukan adanya dinamika dalam bidang perawatan.

Disamping itu hendaknya ditekankan bahwa keberhasilan perawatan tergantung dari faktor manusianya serta dilakukan terhadap semua aspek dan kegiatan perusahaan dengan sebaik-baiknya. Semua ini dilakukan setelah kita telah mengetahui Proses Penilaian Resiko (Risk Assessment), Proses Pengurangan Resiko (Risk MITIGATION ) dan Proses Evaluasi Resiko (Risk Evaluation) terhadap peralatan dan teknologi yang terpasang. Perawatan dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, waktu produk serta menjamin keselamatan dan kemampuan manusia, aset dan lingkungan.

Komentar ditutup.